JAKARTA, KOMPAS.com — Munculnya bencana geologis seperti
gempa, tsunami, dan gunung meletus memang tak bisa diperkirakan dengan
pasti. Namun, ilmuwan terus berupaya agar bencana tersebut bisa
diprediksi seakurat mungkin guna mencegah jatuhnya korban.
Tampilkan postingan dengan label prekursor gempabumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prekursor gempabumi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 Juni 2012
Kamis, 07 Juni 2012
Kala Gerhana (Diduga) Memicu Gempa, Membedah Gempa Sukabumi 4 Juni 2012 (Mw 5,9)
oleh Ma'rufin Sudibyo pada 5 Juni 2012
Sebuah
gempa tektonik kuat mengguncang lepas pantai selatan Jawa Barat pada
Senin 4 Juni 2012 pukul 18:18 WIB, tepat tatkala langit Indonesia sedang
berhias peristiwa Gerhana Bulan Sebagian (GBS). USGS National
Earthquake Information Center mencatat pusat gempa berjarak 77 km di
sebelah selatan-barat daya kota Sukabumi atau 35 km di selatan kota
kecamatan Cibungur. Sehingga gempa ini diberi nama Gempa Sukabumi
ataupun Gempa Cibungur. Koordinat episentrum adalah 7,671 LS 106,418 BT
pada kedalaman sumber 67 km di bawah permukaan laut, yang tergolong
gempa berkedalaman menengah.
Data sedikit berbeda disajikan Pusat Gempa Nasional BMKG, dimana koordinat episentrumnya 7,99 LS 106,19 BT pada kedalaman 24 km. Sedikit perbedaan mengemuka pula pada magnitudo gempa. Menurut UGSG, gempa ini memiliki kekuatan 5,9 skala Magnitudo berdasarkan moment magnitude-nya. Sementara menurut BMKG, gempa ini berskala 6,1 skala Richter berdasarkan body-wave magnitude-nya. Dalam ilmu kegempaan, selisih posisi episentrum dan magnitudo tersebut masih wajar dan hanyalah variasi statistik, apalagi data-data USGS kebanyakan diambil dari jaringan stasiun-stasiun pemantau gempa yang jaraknya lebih jauh dari lokasi gempa dibanding stasiun-stasiun BMKG.
Data sedikit berbeda disajikan Pusat Gempa Nasional BMKG, dimana koordinat episentrumnya 7,99 LS 106,19 BT pada kedalaman 24 km. Sedikit perbedaan mengemuka pula pada magnitudo gempa. Menurut UGSG, gempa ini memiliki kekuatan 5,9 skala Magnitudo berdasarkan moment magnitude-nya. Sementara menurut BMKG, gempa ini berskala 6,1 skala Richter berdasarkan body-wave magnitude-nya. Dalam ilmu kegempaan, selisih posisi episentrum dan magnitudo tersebut masih wajar dan hanyalah variasi statistik, apalagi data-data USGS kebanyakan diambil dari jaringan stasiun-stasiun pemantau gempa yang jaraknya lebih jauh dari lokasi gempa dibanding stasiun-stasiun BMKG.
Langganan:
Postingan (Atom)