Sabtu, 19 Mei 2012

Sensor Getar Sederhana

Sensor Getar Sederhana

[Makalah ini disusun oleh: Yudistira Virgus, Yulius S. Gunawan, Widianta Gomulya, dan Satrio Gani (Anggota Generasi "Engkong" 102FM)]
Sumber : http://102fm-itb.org/2008/05/04/sensor-getar-berbasis-interferensi-cahaya/

Benda selalu bergerak dengan amplitudo dan frekuensi yang berubah-ubah tergantung dari sumbernya. Dari kenyataan ini, timbul kenginan untuk membuat suatu alat yang dapat mendeteksi getaran/gerakan ini. Namun biasanya, getaran ini sangat kecil amplitudonya sehingga tidak terdeteksi oleh manusia. Oleh karena itu, harus digunakan alat yang memiliki sensitivitas tinggi. Terinsipirasi dari percobaan interferometer yang memiliki sensitivitas tinggi, dibuatlah suatu sensor getaran yang memanfaatkan sifat interferensi gelombang elektromagnetik (cahaya) yang digunakan dalam percobaan tersebut. Komponen penting penyusun sensor tersebut adalah sumber laser, photransistor dan catu daya.

INOVASI SEISMOMETER SEDERHANA

INOVASI SEISMOMETER SEDERHANA

(Prototype WaspadaMeter)

Baca ttg waspadameter :  http://dimas-salomo.blogspot.com/2012/05/gara-gara-kena-gempa-yudhi-hernawan.html

Sumber : Buletin Iptek Akademi Meteorologi dan Geofisika ( I-Buletin AMG)

Sebelum terjadinya Lindu / Linuh (baca : gempa) Simeuleu 7,6 SR kemudian diperbarui menjadi 7,0 SR, web http://bmkg.go.id sempat error sehingga informasi gempa dan peringatan Tsunami hanya bisa diperoleh lewat VSAT dan SMS. Menurut Bapak I Putu Pudja, Kepala Pusat Jaringan Komunikasi BMKG mengatakan “Errornya web BMKG tersebut karena semua fiber optic yang menuju Kemayoran (BMKG Pusat) dari cyber Kuningan down karena terendam air pada bawah tanah (akibat hujan deras yang mengguyur ibu kota akhir-akhir ini) dan tertimpa pohon, sehingga kualitas jaringannya tidak optimal. Ditambah hit ke web BMKG terlalu tinggi saat event terjadi (overload)”(red).

Minggu, 06 Mei 2012

Gara-gara Kena Gempa, Yudhi Hernawan Ciptakan Alat Seismik Portabel

Yudhi dan Waspada Meter
Jakarta Selalu ada hikmah di setiap musibah. Seperti yang dialami Yudhi Hernawan Anggrianto (20) yang menjadi korban gempa Yogyakarta pada 2006 lalu. Bencana itu membuat Yudhi penasaran bagaimana bisa mengetahui adanya gempa. Yudhi pun membuat alat seismik portabel!

Yudhi menjadi korban gempa karena dia menetap di Klaten, tak jauh dari pusat gempa. Pada tahun 2010 dia menjadi relawan Merapi.

"Nah sesudah Mbah Maridjan kena awan panas, dari situ teman-teman memantau perkembangan dari HT (handy talkie). Dari situ saya penasaran, bagaimana caranya membuat deteksi getaran, kok bisa secanggih itu menangkap getaran dari jauh," jelas Yudhi ketika berbincang dengan detikcom, Minggu (6/5/2012).

Saat itulah Yudhi memiliki ide membuat alat pendeteksi getaran gempa. Apalagi, minat untuk mempelajari getaran gempa itu mempertemukannya dengan teman-teman berminat sama dalam Komunitas Pemerhati Seismik Indonesia (KPSI). Atas bimbingan dari teman-temannya dalam KPSI pula, Yudhi dibantu mewujudkan ide untuk membuat alat ini.

Cara kerja alatnya, Yudhi menjelaskan, memanfaatkan gaya gerak listrik (GGL) seperti bila bermain

Senin, 30 April 2012

Generasi Kedua Sistem Pemantau

Kompas.Com, Sabtu, 14 April 2012

Sistem peringatan dini tsunami Indonesia yang diluncurkan tahun 2008 kini ditingkatkan kemampuannya dengan peranti lunak aplikasi decision support system. Sistem ini selain memberikan informasi gempa bumi berpotensi tsunami, juga ketinggian dan waktu tiba tsunami.
Sistem peringatan dini tsunami, biasa disebut Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina TEWS), mulai dibangun tahun 2005, pascatsunami besar di Aceh dan Nias, 26 Desember 2004.
Pembangunan jejaring pemantau tsunami itu melibatkan beberapa negara, antara lain, Amerika Serikat, Jerman, dan China. Pemerintah Jerman melalui Pusat Antariksa Jerman (DLR) dan Pusat Riset Kebumian (GFZ) menjadi pendukung utama pemasangan jejaring.
Tahun 2010, Ina TEWS beroperasi penuh. Sistem itu terdiri dari 160 unit seismograf, 500 unit akselerograf, dan 140 unit radio and internet for the communication of hydro-meteorological and climate related information yang dikelola Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kata Kepala BMKG Sri Woro B Harijono.
Selain itu, dalam Ina TEWS juga ada 80 stasiun pasang surut dan 50 stasiun global positioning system (GPS) yang dikelola Bakosurtanal (kini Badan Informasi Geospasial/BIG). Ada pula 23 pelampung pemantau tsunami di beberapa lokasi rawan tsunami yang dioperasikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) masuk ke jaringan ini.
Dengan jejaring alat pemantau itu, hasil pantauan gempa yang berpotensi tsunami dapat disampaikan dalam lima menit sejak guncangan utama terekam seismograf. Namun, informasi yang disampaikan hanya sebatas

Kamis, 12 April 2012

CATATAN TERKAIT GEMPA 11 APRIL 2012 - Dimas Salomo


   1.       Tsunami early warning system telah berfungsi dengan baik.
Sesaat terjadi gempa, BMKG sudah harus mengeluarkan early warning kurang dari 5 menit. Dalam waktu yang sangat singkat ini, BMKG harus mengeluarkan informasi gempa dan peringatan dini tsunami berdasarkan hasil monitoring stasiun seismik yang ada di Indonesia yang langsung dikirim ke BMKG Pusat di Jakarta dengan jaringan satelit. Dengan sistem dan jaringan yang ada pada BMKG, parameter-parameter hasil perhitungan ilmiah BMKG dengan cepat dilaporkan gempa dengan magnitude 8.9 SR tersebut berpotensi tsunami.  Warning ini dengan segera

Minggu, 08 April 2012

PROFIL JURUSAN DI AKADEMI METEOROLOGI DAN GEOFISIKA (AMG-BMKG)


PROFIL MASING-MASING JURUSAN
DI AKADEMI METEOROLOGI DAN GEOFISIKA

AKADEMI METEOROLOGI DAN GEOFISIKA (AMG) sebagai bagian dari pusat pendidikan dan pelatihan Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merupakan lembaga pendidikan professional yang menghasilkan ahli-ahli profesional di bidang meteorologi, klimatologi dan geofisika. Karena itu perkuliahan pada 4 jurusan di AMG memberikan pengenalan, pemahaman dan keahlian agar lulusan nya menjadi ahli professional yang dapat berguna dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungi (tupoksi) BMKG di Indonesia. Jadi, untuk memahami ilmu dan teknologi seperti apa yang diajarkan di AMG, kita harus memahami terlebih dahulu apa saja tugas-tugas dan pekerjaan BMKG di Indonesia.
Berikut penjelasan tentang jurusan-jurusan di AMG -BMKG

Selasa, 27 Maret 2012

"Powering Our Future With Weather, Climate, and Water"


"Powering Our Future With Weather, Climate, and Water"
Sebuah Tema untuk Hari Meteorologi Dunia Ke-62 – 23 Maret 2012
OLEH : DIMAS SALOMO

PENDAHULUAN
            Dr. Ir. Sri Woro B. Harijono, M. Sc, Kepala BMKG,  dalam sambutannya menuturkan Memberdayakan Peranan Cuaca, Iklim, dan Air untuk Masa Depan yang lebih baik ,seluruh komunitas dunia diingatkan untuk lebih sadar terhadap kondisi perubahan cuaca, iklim, dan kelautan, hubungan timbal antara manusia dan lingkungan akan mendorong upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim.
                Indonesia sebagai anggota WMO mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan informasi iklim pada tingkat nasional, regional, dan global untuk mendukung kesejahteraan pada seluruh sektor iklim, terutama di Indonesia dan pada umumnya di komunitas internasional.
                World Meteorological Organization (WMO) menetapkan tanggal 23 Maret sebagai